17 January 2014
28 December 2013
24 October 2013
10 October 2013
27 June 2013
Teknologi Informasi Dalam Dunia Perbankan
NAMA KELOMPOK :
Peran Teknologi Informasi Dalam Dunia Perbankan 1
Visit my campus pages on:
- www.gunadarma.ac.id
- www.studentsite.gunadarma.ac.id
- www.baak.gunadarma.ac.id
Read More
1. ANISSA EKA SRIRAHAYU
2. AHMAT SETIYAWAN
3. CANDRA PERMATASARI
4. FAQIH LAZUARDI
5. IMANUEL FRANSISKUS (33110478)
Peran Teknologi Informasi Dalam Dunia Perbankan 1
Peran teknologi dalam dunia perbankan sangatlah mutlak, dimana kemajuan suatu sistem perbankan sudah barang tentu ditopang oleh peran teknologi informasi. Semakin berkembang dan kompleksnya fasilitas yang diterapkan perbankan untuk memudahkan pelayanan, itu berarti semakin beragam dan kompleks adopsi teknologi yang dimiliki oleh suatu bank. Tidak dapat dipungkiri, dalam setiap bidang termasuk perbankan penerapan teknologi bertujuan selain untuk memudahkan operasional intern perusahaan, juga bertujuan untuk semakin memudahkan pelayanan terhadap customers. Apalagi untuk saat ini, khususnya dalam dunia perbankan hampir semua produk yang ditawarkan kepada customers serupa, sehingga persaingan yang terjadi dalam dunia perbankan adal ah bagaimana memberikan produk yang serba mudah dan serba cepat.
Salah satu bank yang paling mutakhir dengan teknologi hi-end nya adalah BCA, dimana dengan asset teknologi mutakhir yang dimilikinya BCA mampu menjadi leader dalam hal pelayanan e-banking. Dengan jumlah ATM terbesar yang dimilikinya, fasilitas internet banking,dll. Padahal ukuran kecanggihan sebuah teknologi perbankan tidak hanya dilihat dari coverage ATM-nya semata, tapi seharusnya dilihat pada data centernya, khususnya di aplikasi core bankingnya.Memang kendala yang dihadapi oleh dunia perbankan adalah kompleks dan mahalnya teknologi informasi, karena sebagian besar teknologi ini masih disuplay oleh vendor-vendor luar negeri. Tetapi kita lihat sekarang, banyak vendor – vendor pribumi yang berani bersaing dalam teknologi informasi ini. Jadi kenapa kita tidak memakai vendor-vendor pribumi untuk menanamkan teknologi informasi tersebut dalam dunia perbankan. Hal ini manjadi tuntutan bagi perbankan karena mau tidak mau suatu korporasi yang mempunyai ruang lingkup kerja yang luas ditambah dengan operasional-operasional yang sangat banyak harus ditunjang dengan suatu teknologi untuk memudahkan, mengefisienkan dan mengefektifkan kinerja tersebut. Apalagi dalam dunia perbankan dibutuhkan suatu informasi yang up to date bagi pihak manajemen menengah ke atas untuk memprediksikan langkah bisnis yang akan diambil sehingga berbagai kendala yang mungkin muncul dapat teratasi.Sebagai contoh, dibangunnya suatu sistem informasi Biro Kredit Nasional oleh Bank Indonesia, hal itu dilakukan tidak lain adalah untuk mengantisipasi resiko kredit yang mungkin muncul apabila salah seorang debitur mengajukan pinjaman di salah satu bank padahal pinjaman di bank lain belum lunas. Hal ini dibutuhkan kesinergian dan up to date-nya informasi antar bank sehingga hal tersebut dapat terhindarkan.Operasional yang real time antar bank juga telah menjadi tuntutan bagi dunia perbankan, karena hal ini menjadi salah satu materi bagi pelayanan yang berkompetisi dalam memasarkan produk perbankan. Pengiriman uang transfer antar bank, outlet-outlet otomasi (ATM), hal ini menjadi patokan penilaian bagi para nasabah umumnya dalam melakukan transaksi dalam segi pelayanan. Jadi memang mau tidak mau bisnis perbankan harus ditunjang keefisienan operasional jika ingin bersaing di dalam dunianya, dan hal ini harus ditunjang dengan suatu sistem yang terintegrasi yang termuat dalam suatu teknologi informasi.Penerapan suatu teknologi informasi menuntut diantaranya sumber daya manusia yang memadai. Jika sumber daya manusia yang ada tidak menguasai teknologi tersebut hal ini menjadi suatu pemborosan semata, karena mahalnya teknologi yang telah dibeli jika tidak terpakai merupakan suatu hal yang sia-sia. Oleh karena itu sebelum teknologi tersebut diterapkan, sudah seharusnyalah kita instropeksi terhadap kemampuan korporasi, apakah cocok teknologi tersebut diterapkan, apakah sumber daya manusianya memadai, dan apakah teknologi tersebut mempunyai features yang dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama. Karena penerapan suatu sistem teknologi informasi merupakan salah satu aktivitas investasi jangka panjang bagi korporasi. Hal ini sudah sepatutnya menjadi hal yang diperhitungkan dalam dunia perbankan, sebagai lembaga intermediasi bagi masyarakat, sudah seharusnya perbankan menjadi “pelayan” yang setia dengan selalu merealisasikan bentuk-bentuk pelayanan dengan menggunakan teknologi informasi.Namun masyarakat sering salah kaprah. Internet banking sering dikatakan canggih karena memungkinkan akses perbankan dari manapun. Padahal jika dilihat dari arsitektur sistem perbankannya, E-Banking hanyalah salah satu channel dari banyak channel untuk transaksi perbankan semisal EDC (electronic data capture) yang banyak terdapat di merchant belanja. Ataupun mesin ATM itu sendiriMudahnya sebuah sistem yang mengelola data hingga 140 juta customer base yang hanya digunakan untuk pencatatan saja semisal KPU-Pemilu, tentunya tidak lebih canggih dibandingkan BRI dengan 30 juta customer yang menggunakan aplikasinya untuk menghitung kelipatan bunga dan kredit. Dan tentunya tidak berarti BRI kalah canggih dengan aplikasi Bank Niaga yang mampu dengan akses banyak channel-nya bila pelanggannya hanya 10juta.
Pengembangan lokasi layanan perbankan saat ini nyaris sudah tidak mungkin, penambahan produk baru juga tidak akan beranjak jauh dari inovasi sekitar mobile-banking dan ekstensifikasi layanan private banking, yang semula diarahkan ke nasabah-nasabah kelas kakap saja. Layanan financial planning yang semula sangat terbatas, kini semakin marak dan dimungkinkan dengan terbukanya peluang untuk memadukan produk-produk asuransi, pasar-modal dan dana-pensiun ke dalam layanan perbankan. Teknologi yang diperlukan sifatnya menjadi sangat individual dan tergantung pada profil dan kebutuhan masing-masing nasabah. Yang penting adalah bahwa perkembangan saat ini menunjukkan bahwa layanan jasa-keuangan sedang bergerak ke arah konvergensi di antara keempat jenis produk tersebut.
Lalu, bagaimana penerapan teknologi informasi untuk kebutuhan seperti ini? Tidak mungkin melakukan integrasi dari semua sistem aplikasi yang terkait, karena masing-masing aplikasi hampir pasti dioperasikan oleh perusahaan-perusahaan yang berbeda. Beberapa bank tampak mengoperasikan service desk terpisah untuk masing-masing jenis layanan jasa keuangan. Insurance desk misalnya, ada di sudut khusus untuk jenis layanan itu. Capital market instruments relatip lebih mudah diintegrasikan ke dalam layanan jasa perbankan, itupun kalau konfigurasi produknya simpel-simpel saja. Pola ini primordial sifatnya dan sudah dilakukan lebih dari 10 tahun yang lalu. Tantangannya adalah dukungan teknologi perbankan di meja service representative yang dapat digunakan untuk memadukan semua layanan jasa perbankan ini dan meraciknya secara individual untuk para nasabah yang memerlukan.
Peran Teknologi Informasi Dalam Dunia Perbankan 2
Peran teknologi informasi bagi dunia perbankan sangatlah penting dan tidak akan pernah dapat dipisahkan. Karena hampir dari setiap aspek perbankan mengandalkan teknologi informasi. Teknologi informasi ini mencakup sebuah perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) yang dapat berwujud sebuah komputer atau perangkat lainnya yang digunakan dalam operasional kegiatan perbankan. Sedangkan pegawai bank yang akan mengoperasionalkan komputer serta perangkat-perangkat tersebut agar berjalan sesuai dengan keinginan.Kita dapat ambil contoh sederahana salah satu dari pemanfaatan teknologi informasi yakni mesin hitung uang yang digunakan Teller. Teknologi informasi mengenal adanya input, proses, dan output. Di dalam mesin hitung uang sebagai inputannya adalah sejumlah uang yang dimasukan kemudian diproses dengan melakukan penghitungan oleh mesin sedangkan outputnya adalah sebuah angka dimana merupakan jumlah dari lembar uang yang dimasukan. Dapat dibayangkan apabila tidak terdapat sebuah mesin hitung uang di dalam suatu bank. Akan tetapi kendala yang dialami oleh dunia perbankan dengan penerapan teknologi informasi ini adalah sangat kompleks serta mahalnya teknologi informasi, karena sebagian besar teknologi ini masih disuplay oleh vendor-vendor luar negeri. Untuk sekarang ini mulai banyak vendor – vendor pribumi yang berani bersaing dalam teknologi informasi ini. Hal ini manjadi tuntutan bagi perbankan karena mau tidak mau suatu korporasi yang mempunyai ruang lingkup kerja yang luas ditambah dengan operasional-operasional yang sangat banyak harus ditunjang dengan suatu teknologi untuk memudahkan, mengefisienkan dan mengefektifkan kinerja tersebut. Apalagi dalam dunia perbankan dibutuhkan suatu informasi yang up to date bagi pihak manajemen menengah ke atas untuk memprediksikan langkah bisnis yang akan diambil sehingga berbagai kendala yang mungkin muncul dapat teratasi. Operasional yang real time antar bank juga telah menjadi tuntutan bagi dunia perbankan, karena hal ini menjadi salah satu materi bagi pelayanan yang berkompetisi dalam memasarkan produk perbankan. Pengiriman uang transfer antar bank, outlet-outlet otomasi (ATM), hal ini menjadi patokan penilaian bagi para nasabah umumnya dalam melakukan transaksi dalam segi pelayanan. Jadi memang mau tidak mau bisnis perbankan harus ditunjang keefisienan operasional jika ingin bersaing di dalam dunianya, dan hal ini harus ditunjang dengan suatu sistem yang terintegrasi yang termuat dalam suatu teknologi informasi. Penerapan suatu teknologi informasi menuntut diantaranya sumber daya manusia yang memadai.Jika sumber daya manusia yang ada tidak menguasai teknologi tersebut hal ini menjadi suatu pemborosan semata, karena mahalnya teknologi yang telah dibeli jika tidak Terpakai merupakan suatu hal yang sia-sia. Oleh karena itu sebelum teknologi tersebut diterapkan, sudah seharusnyalah kita instropeksi terhadap kemampuan korporasi, apakah cocok teknologi tersebut diterapkan, apakah sumber daya manusianya memadai, dan apakah teknologi tersebut mempunyai features yang dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama. Karena penerapan suatu sistem teknologi informasi merupakan salah satu aktivitas investasi jangka panjang bagi korporasi. Hal ini sudah sepatutnya menjadi hal yang diperhitungkan dalam dunia perbankan, sebagai lembaga intermediasi bagi masyarakat, sudah seharusnya perbankan menjadi “pelayan” yang setia dengan selalu merealisasikan bentuk-bentuk pelayanan dengan menggunakan teknologi informasi.
Reference:
http://id.wikipedia.org/wiki/E-banking
Visit my campus pages on:
- www.gunadarma.ac.id
- www.studentsite.gunadarma.ac.id
- www.baak.gunadarma.ac.id
30 April 2013
Interface Analyzing for BCA E-Banking Service ( Bank Central Asia )
Technical description of the
interface
In
the current release 4.02 the interface between SAP Banking BCA and delivery
channel products is based on the Remote Function Call (RFC). From a technical
point of view, RFC is a library (in the C programming language) which is available
on nearly all operating system platforms.
How it works.
RFC
is a general concept, allowing communication between R/3 Systems or between an R/3
System and external programs. In the case of an external system management tool
we are dealing with an example of the latter, in which the program adopts the
role of a client in relation to the R/3 System. The service offered by the
application server involves the delivery of internal system information or
carrying out individual system management activities. RFC works in sessions. In
other words, the user opens an RFC, carries out RFC tasks and then concludes
the session. In opening the session, the R/3 logon procedure, with user ID and password,
must be carried out. The user must be identifiable to and authorized by the R/3
System. In other words, users must exist within the R/3 System, which are then
used by the external agent. Obviously, you need to set up authorizations for
these users which correspond with the activities that they are to carry out.
RFC
recognizes synchronous, asynchronous and transactional calls. The following examples
use synchronous calls. For further details on the other types of call, see the appropriate
RFC documentation.
SAP
Business Framework (future SAP Banking release)
In a future release the
interface between SAP Banking BCA and delivery channels products will be is
based on the SAP Business Framework. Banking specific Business Objects will be
defined in the SAP BOR (Business Object Repository).
Examples for Business
Objects:
- Business Partner (i.e. customer data)
- Account
- Payment item
- Payment order
- Check
- Standing order
Methods define the
access from external systems to the SAP Banking Business Objects. A method for
a Business Object in the SAP Business Object Repository is called 'BAPI' (Business
Application Programming Interfaces).
Examples for BAPI's in
SAP Banking:
- Get account master data details
- Get account balance
- Create payment item
- Create Standing order
- Get account master data details
- Get account balance
- Create payment item
- Create Standing order
The SAP Business
Framework is an open platform for the integration of external systems. Object-oriented
access technologies like CORBA or COM/DCOM are supported. The BAPI's can also
be called by any external system which can handle Remote Function Calls (RFC)
of SAP function modules. For technical details of the SAP Business Framework we
refer to the SAP basis training or the standard R/3 documentation.
In the current SAP
Banking release 4.02 there are no real BAPIs in SAP Banking BCA:
Currently SAP Function
Modules can be accessed via RFC (Remote Function Call). Technically BAPI's and
function modules are equivalent, the main difference is that BAPIs are defined
as stable and available for a longer term. BAPIs are planned for the next major
SAP Banking release which will be shipped in May 2000. It will be based on the
SAP R/3-Release 4.6.
Reference:
http://www.sap.com/turkey/partners/icc/scenarios/pdf/isb_dch_402.pdf
Reference:
http://www.sap.com/turkey/partners/icc/scenarios/pdf/isb_dch_402.pdf
04 November 2012
Diagram Flowchart
Nama Kelompok :
- IMANUEL FRANSISKUS (33110478)
- IMRAN ZULMI (33110485)
- INDRA DWI PRASETYO (39110644)
- KAISAR GUSTI (39110398)
11:38 PM
Posted by Unknown in Alfamart, Diagram Flowchart, Pengisian KRS, Perpustakaan with 0 comments
Read More
Posted by Unknown in Alfamart, Diagram Flowchart, Pengisian KRS, Perpustakaan with 0 comments
18 October 2012
Basis Data Relasional
Pengertian Basis Data Relasional
Basis Data Relasional menggunakan tabel dua dimensi yang terdiri atas baris dan kolom untuk memberi gambaran sebuah berkas data.
Contoh tabel dan keterhubungannya :
Keuntungan Basis Data Relasional
- Bentuknya sederhana
- Mudah untuk melakukan berbagai operasi data
Istilah dalam Basis Data Relasional
- Relasi : Sebuah tabel yang terdiri dari beberapa kolom dan beberapa baris
- Atribut : Kolom pada sebuah relasi Tupel : Baris pada sebuah relasi
- Domain : Kumpulan nilai yang valid untuk satu atau lebih stribut
- Derajat (degree) : Jumlah atribut dalam sebuah relasi
- Cardinality : Jumlah tupel dalam sebuah relasi
Jenis-jenis Relasional Key:
Super Key
Satu atribut / kumpulan atribut yang secara unik mengidentifikasi sebuah tupel di dalam relasi.
Candidate Key
Atribut di dalam relasi yang biasanya mempunyai nilai unik.
Primary Key
Candidate key yang dipilih untuk mengidentifikasikan tupel secara unik dalam relasi.
Alternate Key
Candidate key yang tidak dipilih sebagai primary key.
Foreign Key
Atribut dengan domain yang sama yang menjadi kunci utama pada sebuh relasi tetapi pada relasi lai atribut tersebut hanya sebagai atribut biasa.
Null
Nilai suatu atribut yang tidak diketahui dan tidak cocok untuk baris (tuple) tersebut.
Entity Integrity
Tidak ada satu komponen primary key yang bernilai null.
Referential Integrity
Suatu domain dapat dipakai sebagai kunci primer bila merupakan atribut tunggal pada domain yang bersangkutan.
Bahasa Pada Basis Data Relasional
Bahasa yang digunakan adalah bahasa query sebagai pernyataan yang diajukan untuk mengambil informasi terbagi 2 :
1. Bahasa Formal
Bahasa query yang diterjemahkan dengan menggunakan simbol-simbol matematis dan contohnya adalah sebagai berikut:
Aljabar relasional
Bahasa query prosedural: pemakai menspesifikasikan data apa yang dibutuhkan dan bagaimana untuk mendapatkannya.
Kalkulus relasional
Bahasa query non prosedural : pemakai menspesifikasikan data apa yang dibutuhkan tanpa menspesifikasikan bagaimana utntuk mendapatkannya.
Kalkulus relasional terbagi 2:
1. Kalkulus Relasional Tupel
2. Kalkulus Relasional Domain
2. Bahasa Komersial
Bahasa query yang dirancang sendiri oleh programmer menjadi suatu program aplikasi agar pemakai lebih mudah menggunakannya (user friendly) dan contohnya adalah sebagai berikut:
- QUEL: Berbasis pada bahasa kalkulus relasional
- QBE: Berbasis pada bahasa kalkulus relasional
- SQL: Berbasis pada bahasa kalkulus relasional dan aljabar relasional
Contoh-contoh DBMS dengan Basis Data Relasional :
DB2 → IBM
ORACLE → ORACLE
SYBASE → Powersoft
INFORMIX → Informix
Microsoft Access → Microsoft
Read More
Basis Data Relasional menggunakan tabel dua dimensi yang terdiri atas baris dan kolom untuk memberi gambaran sebuah berkas data.
Contoh tabel dan keterhubungannya :
Keuntungan Basis Data Relasional
- Bentuknya sederhana
- Mudah untuk melakukan berbagai operasi data
Istilah dalam Basis Data Relasional
- Relasi : Sebuah tabel yang terdiri dari beberapa kolom dan beberapa baris
- Atribut : Kolom pada sebuah relasi Tupel : Baris pada sebuah relasi
- Domain : Kumpulan nilai yang valid untuk satu atau lebih stribut
- Derajat (degree) : Jumlah atribut dalam sebuah relasi
- Cardinality : Jumlah tupel dalam sebuah relasi
Jenis-jenis Relasional Key:
Super Key
Satu atribut / kumpulan atribut yang secara unik mengidentifikasi sebuah tupel di dalam relasi.
Candidate Key
Atribut di dalam relasi yang biasanya mempunyai nilai unik.
Primary Key
Candidate key yang dipilih untuk mengidentifikasikan tupel secara unik dalam relasi.
Alternate Key
Candidate key yang tidak dipilih sebagai primary key.
Foreign Key
Atribut dengan domain yang sama yang menjadi kunci utama pada sebuh relasi tetapi pada relasi lai atribut tersebut hanya sebagai atribut biasa.

Nilai suatu atribut yang tidak diketahui dan tidak cocok untuk baris (tuple) tersebut.
Entity Integrity
Tidak ada satu komponen primary key yang bernilai null.
Referential Integrity
Suatu domain dapat dipakai sebagai kunci primer bila merupakan atribut tunggal pada domain yang bersangkutan.
Bahasa Pada Basis Data Relasional
Bahasa yang digunakan adalah bahasa query sebagai pernyataan yang diajukan untuk mengambil informasi terbagi 2 :
1. Bahasa Formal
Bahasa query yang diterjemahkan dengan menggunakan simbol-simbol matematis dan contohnya adalah sebagai berikut:
Aljabar relasional
Bahasa query prosedural: pemakai menspesifikasikan data apa yang dibutuhkan dan bagaimana untuk mendapatkannya.
Kalkulus relasional
Bahasa query non prosedural : pemakai menspesifikasikan data apa yang dibutuhkan tanpa menspesifikasikan bagaimana utntuk mendapatkannya.
Kalkulus relasional terbagi 2:
1. Kalkulus Relasional Tupel
2. Kalkulus Relasional Domain
2. Bahasa Komersial
Bahasa query yang dirancang sendiri oleh programmer menjadi suatu program aplikasi agar pemakai lebih mudah menggunakannya (user friendly) dan contohnya adalah sebagai berikut:
- QUEL: Berbasis pada bahasa kalkulus relasional
- QBE: Berbasis pada bahasa kalkulus relasional
- SQL: Berbasis pada bahasa kalkulus relasional dan aljabar relasional
Contoh-contoh DBMS dengan Basis Data Relasional :
DB2 → IBM
ORACLE → ORACLE
SYBASE → Powersoft
INFORMIX → Informix
Microsoft Access → Microsoft
Sistem Informasi Akuntansi
NAMA KELOMPOK:
- IMANUEL FRANSISKUS (33110478)
- IMRAN ZULMI (33110485)
- INDRA DWI PRASETYO (39110644)
- KAISAR GUSTI (39110398)
1. Pengertian dari SISTEM:
Suatu kesatuan prosedure atau komponen yang saling berkaitan 1 dengan yang lainnya bekerja sama sesuai dengan aturan yang diterapkan sehingga membentuk suatu tujuan yang sama, dimana dalam sebuah sistem bila terjadi 1 bagian saja yang tidak dapat bekerja atau rusak maka suatu tujuan bisa terjadi kesalahan hasilnya atau outputnya.
2. Unsur-unsur elemen dari sistem yaitu sebagai berikut:
- Tujuan
- Masukan
- Proses
- Keluaran
- Batas
- Mekanisme
- Pengendalian
- Umpan Balik
- Lingkungan
3. Contoh dari Sistem Lingkaran Terbuka dan Sistem Lingkaran Tertutup:
Sistem Lingkaran Terbuka:
- Sistem pembelanjaan di warung
- Sistem pengambilan uang di ATM
Sistem Lignkaran Tertutup:
- Sistem penggajian karyawan
4. Simbol-simbol SIA (Sistem Informasi Akuntansi):
Read More
- IMANUEL FRANSISKUS (33110478)
- IMRAN ZULMI (33110485)
- INDRA DWI PRASETYO (39110644)
- KAISAR GUSTI (39110398)
1. Pengertian dari SISTEM:
Suatu kesatuan prosedure atau komponen yang saling berkaitan 1 dengan yang lainnya bekerja sama sesuai dengan aturan yang diterapkan sehingga membentuk suatu tujuan yang sama, dimana dalam sebuah sistem bila terjadi 1 bagian saja yang tidak dapat bekerja atau rusak maka suatu tujuan bisa terjadi kesalahan hasilnya atau outputnya.
2. Unsur-unsur elemen dari sistem yaitu sebagai berikut:
- Tujuan
- Masukan
- Proses
- Keluaran
- Batas
- Mekanisme
- Pengendalian
- Umpan Balik
- Lingkungan
3. Contoh dari Sistem Lingkaran Terbuka dan Sistem Lingkaran Tertutup:
Sistem Lingkaran Terbuka:
- Sistem pembelanjaan di warung
- Sistem pengambilan uang di ATM
Sistem Lignkaran Tertutup:
- Sistem penggajian karyawan
4. Simbol-simbol SIA (Sistem Informasi Akuntansi):
01 May 2012
Pertahanan Nasional
Pertahanan Nasional adalah suatu kondisi dinamis suatu bangsa yang terdiri atas ketangguhan serta keuletan dan kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi segala macam dan bentuk ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan baik yang datang dari dalam maupun luar, secara langsung maupun yang tidak langsung yang mengancam dan membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan dalam mewujudkan tujuan perjuangan nasional.
Bentuk-bentuk ancaman :
a. Ancaman di dalam negeri contohnya adalah pemberontakan dan subversi yang berasal atau terbentuk dari masyarakat Indonesia.
b. Ancaman dari luar negeri contohnya adalah infiltrasi, subversi dan intervensi dari kekuatan kolonialisme dan imperialisme serta invansi dari arat, udara dan laut oleh musuh dari luar negeri.
Konsepsi ketahanan nasional adalah keseimbangan dan keserasian dalam kehidupan sosial melingkupi seluruh aspek kehidupan secara utuh menyeluruh berlandaskan falsafah bangsa, ideologi negara, konstitusi dan wawasan nasional dengan metode Astagatra. Konsepsi ketahanan nasional ini merupakan saran untuk mewujudkan ketahanan nasional.
Ketahanan Nasional mempunyai aspek utama, yaitu Kesejahteraan dan Keamanan. Kesejahteraan dan Keamanan adalah dua aspek dari Ketahanan Nasional yang dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan. Sebab itu, mengusahakan terwujudnya Ketahanan Nasional hakikatnya merupakan satu proses membentuk Kesejahteraan dan Keamanan buat negara dan bangsa. Ketahanan Nasional hanya dapat terwujud kalau meliputi seluruh segi kehidupan bangsa yang biasanya kita namakan aspek sosial kehidupan, meliputi Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya dan Hankam. Juga meliputi aspek alam , yaitu Geografi, Penduduk dan Kekayaan Alam. Di lingkungan Lembaga Ketahanan Nasional seluruh segi kehidupan bangsa itu dinamakan Asta Gatra, terdiri dari Panca Gatra (Sosial) dan Tri Gatra (Alam). Seluruhnya itu harus selalu diusahakan untuk memberikan perannya dalam perwujudan Kesejahteraan dan Keamanan.
Ketahanan nasional mengutamakan pengaturan kehidupan nasional dengan mendahulukan keadaan dalam negeri, sehingga dapat dikatakan bahwa ketahanan nasional bersifat ''inward looking'' meskipun tidak mengabaikan hubungan luar negeri sementara kekuatan nasional bersifat outward looking. Itu sebabnya ketahanan nasional harus tetap terpelihara untuk menghadapi ancaman, baik dari dalam maupun dari luar.
Subscribe to:
Posts (Atom)
















